15 Sep 2011

Mahasiswi India Perjuangkan Jilbab di Kampus



Mahasiswi Muslimah India di sebuah perguruan tinggi Mangalore yang dilarang memakai jilbab di dalam kelas, mengadukan kasusnya ke gubernur atau bahkan presiden. Ia memrotes pelarangan yang dinilainya sebagai pelanggaran kebebasan beragama.
“Saya tidak akan mundur, ,” kata Hadiya, mahasiswi Jain PU College, Moodbidri, kepada Bangalore Mirror (12/8). “Meskipun respon dari DC tidak begitu menggembirakan, saya akan menunggu sampai dia kembali kepada saya, baik secara langsung atau melalui perguruan tinggi.”
Ketika Hadiya memutuskan untuk mengenakan jilbab, ia tengah mempersiapkan diri untuk tahun akademik kedua di universitasnya.  Namun, keputusannya mengenakan jilbab itu tidak diterima oleh administrasi universitas yang menganggapnya sebagai pelanggaran seragam.

Awalnya, ia diizinkan untuk duduk di ruang wanita untuk menyelesaikan catatannya. Setelah itu ia dilarang dan berhenti masuk kuliah lebih dari sebulan.
Dalam sebuah surat kepada Dakshina Kannada, wakil komisioner Channappa Gowda, ia telah meminta izin resmi untuk melakukannya.
Hadiya mengatakan, dia akan mengadukan masalahnya ke gubernur atau bahkan ke presiden, jika ia gagal untuk mendapatkan respon positif dari wakil komisaris.
“Jika saya gagal untuk mendapatkan respon yang positif, setelah berkonsultasi dengan para senior saya, saya akan menulis kepada Gubernur dan Presiden India,” kata mahasiswa berusia 17 tahun itu.
Muslim India berjumlah sekitar 140 juta dari 1,1 miliar total penduduk, populasi Muslim terbesar di dunia setelah Indonesia dan Pakistan.

Berjuang untuk hak untuk memakai jilbab selama satu tahun, Hadiya berhasil memulai kampanye tanda tangan dan mendapat dukungan dari 50 Muslim dan 15 siswa non-Muslim, langkah yang kemudian ditentang kepala sekolah.
“Kepala sekolah mengatakan saya menciptakan ketegangan di perguruan tinggi,” katanya. “Saya hanya berjuang untuk kasus saya. Saya ingin melanjutkan studi saya.”
Hadiya bukan gadis Muslim pertama di PU Jain College yang menyerukan hak mengenakan jilbab.
Dua tahun lalu, Aisyah Ashmin (19), seorang mahasiswa IB Com Sri Venkataraman Swamy (SVS) College, Bantwal, telah membuat keluhan yang sama tentang tidak diizinkan mengenakan jilbab di kelas. Ia pun pindah kuliah.
Umaira Khatun, seorang pekerja sosial, mengatakan jilbab (hijab) adalah bagian dari Islam dan harus dihormati. “Kami tidak berniat menjelekkan nama kampus,” kata Khatun.
Kaum Muslim telah lama mengeluh adanya diskriminasi di semua lapisan masyarakat di India yang berpenduduk mayoritas Hindu. Kaum Muslim juga mengeluhkan didiskriminasi dalam pekerjaan.
Kaum Muslim yang bekerja di sektor pelayanan umum kurang dari tujuh persen, hanya lima persen pekerja kereta api, sekitar empat persen karyawan perbankan, dan hanya ada 29.000 tentara Muslim di antara 1,3 juta anggota militer India. (Mel/OnIslam/ddhongkong.org).*


Related Articles/Artikel Terkait



3 komentar:

perjuangan dan kberanian yg luar biasa, ni namanya jihad fi sabilillah..

semoga perjuangan ini menjadi contoh bagi para muslimah di manapun berada dan semoga perjuangannya selalu dalam limpahan lindungan dan ridho Allah SWT..amiin

SUbhanallah..
perjuangan itu memang berat.
tapi buahnya manis kelak :)

Post a Comment