29 Aug 2011

Sejarah Peradaban Islam di Kabupaten Sikka bagian 2

MELETUSNYA Gunung Tambora di Bima NTB tahun 1885 juga menjadi tonggak perkembangan Islam di Kabupaten Sikka. Letusan dasyat yang dikabarkan menghancurkan Kerajaan Tambora itu mengakibatkan pengungsian hingga ke pesisir Desa Watumilok Kecamatan Kewapante Kabupaten Sikka. KRISTO EMBU, Maumere

Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Sikka Abdul Rasyid Wahab, kapal-kapal yang mengangkut pengungsi dari Bima pasca meletusnya Gunung Tambora tahun 1885 menyinggahi pesisir Desa Watumilok yang sekarang diberi nama Waipare. "Menurut catatan sejarah para pengungsi ini berlabuh ke arah timur karena wilayah barat sudah lebih dahulu diduduki pendatang dari Gowa," kata Abdul Rasyid.

Padahal peradaban Islam di Bima juga berkembang setelah kedatangan pelaut dari Gowa Sulawesi Selatan. Kedatangan peradaban Islam dari Gowa dan Bima di Kabupaten Sikka juga terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan yakni abad ke-18.

Di Waipare, jelas Abdul Rasyid, awalnya agama Islam kurang berkembang karena tidak diterima dengan baik oleh penduduk lokal. "Waktu itu penduduk lokal sepertinya takut untuk berhubungan dengan para pengungsi," katanya. Ia mengatakan, saat itu tidak ada interaksi antara dua kelompok warga yang menduduki dua lokasi yang berbeda ini. Pengungsi dari Bima menetap di pesisir pantai. Sementara warga lokal agak ke darat.

Hubungan dengan warga lokal mulai dibangun setelah adanya dukungan dari raja Sikka saat itu. "Raja Sikka saat itu menjalin kerjasama dalam bidang ekonomi dengan pelaut asal Gowa dan dilanjutkan dengan yang dari Bima," kata Abdul Rasyid. Hubungan dengan warga lokal berawal dengan sistim barter namun dilakukan dengan cara yang unik. Hal ini karena masing-masing kelompok tidak saling bertemu. "Jadi pendatang dari Bima meletakan ikan dan garam di satu tempat kemudian diambil oleh warga lokal yang juga meletakan hasil pertaniannya," katanya.

Tempat tersebut adalah sebuah mata air yang bernama Wair Koja. Tempat tersebut sekarang sudah menjadi perkampungan dan menjadi nama desa pemekaran dari Desa Watumilok. Proses barter unik ini berlangsung cukup lama. Seiring perkembangan waktu proses barter ini kemudian berkembang dengan mempertemukan kedua belah pihak. Tradisi ini dipertahankan hingga saat ini. Hubungan kawin-mawin pun terjadi antara kedua belah pihak sehingga agama Islam terus berkembang.

Masjid pertama yang dibangun adalah masjid Rahmad di Waipare. Mesjid ini kemudian mengalami beberapa kali perbaikan dan berdiri hingga saat ini. Beberapa jemaah yang ditemui mengakui masjid tersebut merupakan masjid tua peninggalan nenek moyang sejak zaman dahulu. Mohamad Uja mengatakan sesuai penuturan beberapa saksi sejarah, masjid tersebut merupakan salah satu yang tertua di Sikka. "Kalau yang tertua adalah Masjid Al-Taqwa di Maumere. Kalau masjid Rahmad ini kalau tidak salah merupakan yang kedua dibangun," kata Uja ketika ditemui di kediamannya, Jumat (12 September).

Mengenai sejarah Islam di wilayah tersebut, guru pada SMP Muhamadyah Waipare ini mengatakan sepengetahuan dirinya nenek moyang penduduk di wilayah tersebut berasal dari Bugis dan Bima. "Sesuai cerita nenek moyang kami, penduduk di sini berasal dari pelaut asal Bugis dan Bima," katanya. Satu bukti kuat adalah tradisi melaut yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Lain halnya lagi yang dikatakan Mijan, seorang pemuda di sekitar masjid tersebut. Ia mengaku sebagai penduduk asli di tempat tersebut. "Orangtua saya dan nenek moyang kami semuanya lahir dan besar di sini. Sehingga kami adalah penduduk asli di tempat ini," katanya. Apalagi, terdapat banyak kesamaan budaya antara warga penganut Muslim dengan non Muslim.

Menurut tokoh Islam di Kabupaten Sikka Abdul Rasyid Wahab, budaya pemeluk Muslim asal Gowa dan Bima sebenarnya sama karena pemeluk Muslim di Bima adalah keturunan dari Gowa. "Sebenarnya sama karena semuanya dipengaruhi peradaban Islam dari Kerajaan Gowa," katanya. Hanya dalam perkembangan disesuaikan dengan budaya lokal sehingga mengalami sedikit perubahan. ***

Sumber : Timor Express


Related Articles/Artikel Terkait



0 komentar:

Post a Comment