29 Aug 2011

Sejarah Peradaban Islam di Kabupaten Sikka (3-Habis)





Kampung Geliting di Kecamatan Kewapante merupakan salah satu pusat peradaban Islam di Kabupaten Sikka yang tumbuh sejak abad ke-18. Seperti di beberapa tempat lainnya, di Geliting juga dipengaruhi oleh suku Gowa, Bone dan Bajo yang berasal dari Sulawesi Selatan. Nama tempat dan sebutan untuk penganut Islam bahkan diambil dari nama suku tersebut.

KRISTO EMBU, Maumere

'Regang Bajo' merupakan sebutan untuk Pasar Geliting yang digunakan warga di Kecamatan Kewapante dan sekitarnya hingga saat ini. Regang merupakan kata dari bahasa Sikka yang berarti pasar. Sementara Bajo adalah nama tempat di Sulawesi Selatan. Namun, Bajo di sini ditujukan untuk warga di sekitar pasar tersebut yang berasal Bajo dan suku lainnya di Sulawesi Selatan.

Regang Bajo atau Pasar Geliting merupakan pusat pasar untuk masyarakat Sikka di bagian timur. Ribuan warga yang berasal dari sembilan kecamatan di Sikka bagian timur menggunakan pasar tersebut hingga saat ini. Awalnya pasar ini mempertemukan pedagang dari Bajo dengan penduduk lokal melalui sistim barter. Sistim ini masih dipertahankan hingga saat ini.

Sesuai catatan sejarah, warga asal Sulawesi Selatan ini menginjakan kakinya di Geliting pada abad ke-18. Menurut Imam Masjid Al-Mujahidin Haji Firdaus Bakuasong, yang pertama yang menyebarkan Islam di tempat tersebut adalah tiga orang yang berasal dari Bima, NTB.

Ketiganya adalah Mahmud, Hasan dan Husein. Ketiganya menggunakan perahu layar untuk mengungsi setelah Gunung Tambora di NTB meletus tahun 1885. Ternyata ketiga orang tersebut berasal dari Gowa dan Bajo Sulawesi Selatan. Setelah itu warga dari Bajo, Gowa dan Bone mulai berdatangan di tempat tersebut.

"Setelah semakin banyak yang datang dan terjadi hubungan kawin-mawin maka kemudian terbentuklah kampung Geliting ini," kata Firdaus ketika ditemui di kediamannya di Geliting, Sabtu (13 September). Ia mengatakan, perkembangan Islam saat itu juga didukung dengan kerjasama dengan raja di wilayah tersebut yakni Raja Nai.

Firdaus yang berasal dari garis keturunan Mahmud ini mengatakan kerjasama dengan penduduk lokal saat itu terutama melalui hubungan dagang. "Nenek moyang kami adalah pedagang sehingga mulai terjalin hubungan dagang," katanya. Barang yang diperdagangkan terutama ikan dan garam dengan menggunakan sistim barter. Sistim barter ini dimulai dengan tanpa pertemuan fisik kedua belah pihak hingga barter dengan mempertemukan kedua belah pihak. Tradisi ini dipertahankan hingga saat ini.

Karena kuatnya pengaruh suku Bajo saat itu, lanjut Firdaus, pasar yang menjadi tempat pertemuan dinamakan Regang Bajo (Pasar Bajo). "Kata Bajo itu berasal dari nama Suku Bajo," kata Firdaus.

Sementara itu suku Gowa lebih identik dengan Agama Islam. Hal ini dibuktikan dengan sebutan 'Goan' untuk penganut Islam oleh warga lokal. "Goan itu berasal kata Gowa yakni warga asal Suku Gowa," kata Firdaus. Sebutan 'Ata Goan' atau orang Islam masih digunakan hingga saat ini. Menurut Firdaus, sebutan ini ternyata lebih mempererat hubungan tali silahturahmi antara warga pendatang dengan penduduk asli. "Dari dulu sampai sekarang tidak pernah ada permasalahan," katanya.

Salah satu bukti sejarah peninggalan pendatang pertama adalah Masjid Al-Mujahidin yang terletak di Pasar Geliting. Firdaus tidak tahu persis kapan mesjid tersebut dibangun. "Memang tidak tertulis jelas namun masjid ini dibangun sejak awal kedatangan penduduk asal Bima dan Sulawesi Selatan," katanya. Awalnya, lanjut Firdaus, hanya Mushola atau Langgar.

Namun, awal abad ke-19 dibangun masjid dengan ukuran yang besar di tempat yang sama. Masjid yang diberi nama Al-Mujahidin ini menjadi pusat untuk penganut muslim di Geliting dan sekitarnya hingga ke Nangahale - sekitar 10 kilometer dari Geliting.

Kini masjid yang dibangun di atas lahan sekitar seperempat hektar ini menjadi salah satu masjid bersejarah di Sikka. Seiring perkembangan peradaban Islam, kemudian dibangun masjid-masjid baru di Geliting dan daerah sekitarnya hingga ke Nangahale.

Hingga saat ini peradaban Islam masih mendiami wilayah pesisir utara Kabupaten Sikka mulai Nangahale hingga Ndete di Magepanda. Karena kuatnya pengaruh budaya suku-suku dari Sulawesi Selatan maka sebagian besar penganut Islam di Sikka bermata pencaharian sebagai nelayan dan pedagang. ***

 Sumber : Timor Express


Related Articles/Artikel Terkait



0 komentar:

Post a Comment