5 Jun 2010

KHUTBAH JUM'AT

Khutbah Jum’at termasuk salah satu syarat sah shalat Jum’at, ia terdiri dari dari dua khutbah dan disampaikan sebelum shalat, hal ini berdasarkan perbuatan Nabi saw yang selalu melakukannya. Abdullah bin Umar berkata, “Nabi saw berkhutbah dengan dua khutbah dengan berdiri dan beliau memisahkan keduanya dengan duduk.” Muttafaq alaihi.

Termasuk syarat sah khutbah Jum’at adalah: Hamdalah, pujian dan sanjungan kepada Allah Ta'ala, syahadatain, shalawat dan salam kepada Nabi saw, wasiat takwa, membaca al-Qur`an walaupun hanya satu ayat dan nasihat untuk hadirin.

Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh khatib

1- Berkhutbah di atas mimbar, hal ini berdasarkan perbuatan Nabi saw, di samping itu nasihat yang disampaikan khatib lebih mengena manakala hadirin menyaksikan khatib berbicara di depan mereka.

2- Khatib naik mimbar, menghadapkan wajahnya kepada hadirin dan mengucapkan salam kepada mereka lalu duduk menunggu adzan dari muadzin kemudian berkhutbah dengan berdiri. Jabir berkata, “Jika Rasulullah saw naik mimbar, beliau mengucapkan salam.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah saw duduk ketika beliau naik mimbar sampai muadzin selesai adzan, kemudian beliau bangkit dan berkhutbah.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud.

3- Mengawali khutbah dengan Khutbatul Hajah

إِنَّ الحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ ونَسْتَعِيْنُهُ ونَسْتَغْفِـرُهُ وَنَعُوذُ باِللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُـسِـنَا وَسَـيِّئاتِ أَعْـمَالِنَا. مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ، وأشهد أن لاإله إلا لله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدا عـبده ورسوله .

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolongan kepadaNya dan memohon ampunan kepadaNYa, kami berlindung kepada Allah dari kejelekan jiwa kami dan keburukan amal-amal kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan maka tidak ada yang memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang haq selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Baihaqi. Lalu membaca tiga ayat, 102 surat al Imran, 1 surat an-Nisa` dan 70 surat al-Ahzab.

4- Mempersingkat khutbah dengan tetap memperhatikan sasaran dan tujuannya, berdasarkan sabda Nabi saw,

إنَّ طُوْلَ صَلاةِ الرَجُلِ وَقِصَرِ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ

Lamanya shalat seseorang dan pendeknya khutbah adalah salah tanda pemahamannya.” Diriwayatkan oleh Muslim dari Ammar.

5- Hendaknya khatib berdoa untuk kaum muslimin, doa yang mengandung kebaikan dan kemaslahatan untuk mereka, juga berdoa untuk pemimpin dan ulil amri kaum muslimin, semoga Allah membimbing mereka kepada kebaikan, karena kebaikan pemimpin adalah kebaikan masyarakat.

6- Di antara yang dilakukan oleh Nabi saw di saat beliau berkhutbah.

Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad 1/415 menyebutkan bahwa Nabi saw berhutbah dengan bersandar kepada tongkat atau busur sebelum beliau membuat mimbar, setelah mimbar ada maka beliau meninggalkannya, setelah hamdalah dan tasyahud beliau mengucapkan, “Amma ba’du.” Jika beliau berkhutbah maka kedua mata beliau memerah, suara beliau tinggi, seolah-olah beliau sedang memberi peringatan tentang serangan musuh, “Musuh akan menyerang kalian di pagi atau sore hari.”

Beliau memerintahkan orang yang masuk masjid untuk shalat dua rakaat, beliau memerintahkan orang yang melangkahi pundak untuk meninggalkan perbuatannya lalu duduk, beliau pernah turun dari mimbar untuk mengambil dua orang cucunya, al-Hasan dan al-Husain, lalu beliau membawa keduanya naik mimbar, beliau meminta hujan di atas mimbar ketika seorang laki-laki mengadukan kekeringan, beliau menunjuk dengan jari telunjuknya dalam khutbah pada saat menyebutkan nama Allah Ta'ala dan pada saat berdoa. Rasulullah saw mengajarkan dalam khutbahnya dasar-dasar Islam dan syariat-syariatnya kepada sahabat-sahabatnya, beliau memerintahkan dan melarang mereka.

Ibnul Qayyim berkata, “Barangsiapa memperhatikan khutbah-khutbah Nabi saw dan para sahabatnya niscaya dia melihatnya berisi penjelasan tentang hidayah dan tauhid, menyebutkan sifat-sifat Allah Ta'ala, dasar-dasar iman yang menyeluruh, dakwah kepada Allah, mengingatkan nikmat-nikmatNya yang menjadikanNya dicintai oleh makhlukNya, memperingatkan mereka terhadap hari perjumpaan denganNya yang membuat mereka takut terhadap siksaNya, memerintahkan mereka untuk mengingatNya dan bersyukur kepadaNya yang membuat mereka dicintai olehNya, maka mereka mengingat kebesaran Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya sehingga mereka pun menyintainya, sehingga hadirin bubar dalam keadaan menyintai Allah dan Dia menyintai mereka.” (Zadul Ma’ad 1/409).


Related Articles/Artikel Terkait



0 komentar:

Post a Comment