1 Apr 2010

Versi Lain Suku Bajo

Sejarah

Suku Bajo atau Bajau dikenal sebagai salah satu suku nomaden di Indonesia yang beraktivitas di atas perahu. Kehidupannya pun berpindah-pindah akibat tradisi yang mengakar kuat pada suku Bajo. Oleh karena itu banyak peneliti yang kesulitan untuk memastikan tempat asal-usul dari suku Bajo. Karena ketika lahir hingga meninggalpun segala aktivitas hanya diabdikan kepada laut. Laut dijadikan sebagai tumpuan dalam mencari nafkah dan kehidupannya.

Mengenai sejarah asal-usul dari suku Bajo, terdapat banyak versi yang menyebutkan. Salah satunya adalah menurut Dr Anwar Hafidz Mpd ahli sejarah di Universitas Halu Oleo. Suku Bajo merupakan suku laut yang berasal dari Johor Malaysia yang kemudian menyebar hingga ke Sulawesi, NTT, Sulawesi Tenggara dan pulau-pulau sekitar di Indonesia. Bukti tersebut diperkuat dari segi budaya berpantun yang dimiliki oleh suku Bajo. Selain itu, Imam Masjid pertama di Kota Kendari adalah ulama dari etnis Bajo. Bisa jadi, suku Bajo dalam menyebarkan Islam ada kaitannya dengan Syaikh Abdul Wahid, seorang ulama dari Arab yang sebelum ke Nusantara, terlebih dahulu menyebarkan Islam di Johor Semenanjung Malaysia, dimana etnis Bajo berasal.

Versi lain menyatakan, mereka berasal dari Vietnam dan Philipina. Hal tersebut didasarkan pada bahasa yang hampir mirip dengan masyarakat pesisir yang ada di Philipina dan Vietnam. Seluruh etnik Bajo di pantai manapun berada, mereka tetap menggunakan bahasa yang sama, yaitu bahasa Bajo.

Di sisi lain terdapat argumen yang menyatakan bahwa suku Bajo berasal dari daerah di selatan Philipina dengan beranggapan dari kesamaan bahasa dari suku Bajo yang banyak menyerupai bahasa Togolog Philipina. Selain itu terdapat kesamaan bahasa dari suku Bajo yang berasal dari Vietnam maupun dari Indonesa dan Philipina sendiri.

Versi lain dari asal usul suku Bajo adalah bahwa suku Bajo merupakan campuran dari Cina Selatan dan Kalimantan Timur. Versi ini, didasarkan pada mitos dan cerita rakyat yang berkembang pada masyarakat Bajo. Suatu ketika di masa silam, raja di Johor Malaysia kehilangan putrinya yang sedang bertamasya mengarungi lautan Nusantara. Dikabarkan, putri raja tersebut tenggelam di lautan lepas. Atas kejadian itu, Kerajaan Malaka memerintahkan seluruh prajuritnya untuk mencari putri raja. Mereka tidak diperbolehkan kembali, sebelum berhasil mendapatkan putri sang raja. Di sinilah dimulai sebuah perantauan tak berujung. Karena tidak berhasil menemukan putri raja yang tenggelam, maka para prajurit kerajaan Malaka memutuskan tidak kembali ke kerajaan dan berlayar kemana saja mengikuti arah angin. Hal ini menjadi cikal bakal suku Bajo yang kemudian tinggal di atas perahu dan berpindah-pindah dan menyebar hingga seluruh nusantara.

Selain versi suku Bajo di atas, terdapat banyak versi lain yang memaparkan asal-usul dari suku bajo antara lain;

1. lontarak riolo peninggalan kerajaan Bone menyebutkan bahwa suku Bajo berasal dari daerah di selatan Afrika. Dalam lontarak tersebut terdapat banyak kata Bajo dan afrika sehingga dikaitkan sebagai asal dari suku ini.

2. suku Bajo berasal dari prajurit Malaka yang tidak menerima kehadiran Portugis di Malaka sehingga mereka menyebar ke kawasan Timur Nusantara, membentuk komunitas suku Bajo.

3. Salah satu Lontarak Bajo mengatakan bahwa suku Bajo berasal dari suku Makassar

Meskipun banyak versi yang menyebutan mengenai asal usul suku Bajo, akan tetapi seluruh versi tersebut membenarkan bahwa suku Bajo merupakan masyarakat nomaden atau suku yang hidup di atas perahu dan seluruh kehidupannya diaplikasikan hanya pada laut.

Penyebaran

pada umumnya istilah suku Bajo dipakai untuk orang-orang perahu penyeberang yang berkembang melintasi Laut Cina Selatan. Sehingga nenek moyang dari suku Bajo dikatakan sebagai manusia perahu. Mereka utamanya hidup dari Kepulauan Philipina hingga Pulau Kalimantan, dan dari Sulawesi serta Pulau-pulau Sunda hingga ke Kepulauan Mergui di bagian selatan Myanmar.

Sekarang ini, hanya sejumlah kecil saja orang Bajo yang masih hidup di perahu, atau “suku nomaden laut”. Jumlah mereka berkurang drastis selama abad terakhir. Orang Bajo di Indonesia tinggal terutama di daerah kepulauan dan daerah-daerah pantai Sulawesi. Pemukiman mereka umumnya di dekat Bagai, Sula, dan kepulauan Togian, sepanjang selat Tiworo, di teluk Bone, dan sepanjang pantai Makassar.

Pada abad 21 sekarang dengan perkembangan teknologi dan informasi atau globalisasi menyebabkan banyak dari suku Bajo yang sudah tidak bermukim di atas perahu dan mengapung pada samudera lepas. Selama satu abad terakhir, jumlah suku bajo berkurang drastis. Akan tetapi suku bajo mulai membentuk pemukiman tersendiri dan menyebar di banyak tempat di pesisir Indonesia, Malaysia, Brunei, Philipina, Vietnam, dan Thailand. Di Indonesia sendiri, letak persebaran suku Bajo, bermula dari Malaysia yang datang ke Sulawesi. Dari Sulawesi, suku Bajo menyebar ke Manado, Ambogaya, kalimantan, sulawesi tenggara, NTT, NTB, Papua, pesisir Sumatera dan tersebar banyak lagi di pulau-pulau terpencil di Nusantara.

Salah satu persebaran dari suku Bajo antara lain perpindahan penduduk di pulau Nain dan pesisir Arakan (Rap-rap). Suku Bajo melakukan perpindahannya dari Gowa, Sulawesi Selatan, sekitar tahun 1698. Dengan menggunakan sembilan buah perahu, sebanyak 112 jiwa ini mulanya menetap di pesisir kampung Kima Bajo dan Talawaan Bajo. Di pesisir Minahasa, Pulau Sulawesi, ini mereka mendirikan daseng (rumah kecil dan sederhana di laut). Etnis pelaut ini juga ada yang menyebar di Burau, Kalimantan, dan Philipina. Kedatangan suku Bajo ini mencari kima (Tridacna spp) dan ikan.

Setelah satu abad lebih mendiami pesisir kampung Kima Bajo, tahun 1823, orang Bajo ini pindah ke Pulau Nain. Selain itu, ada yang migrasi ke pesisir Likupang dan Bitung. Selanjutnya, dari Pulau Nain, beberapa keluarga Bajo ada yang mendirikan daseng di utara Pulau Mantehage dan pindah ke Rap-rap.





Related Articles/Artikel Terkait



0 komentar:

Post a Comment