1 Apr 2010

Pengaruh Suku bajo Terhadap Terumbu Karang

1. Pengaruh Positif

Suku Bajo merupakan salah satu suku nomaden yang ada di Indonesia dan bahkan di dunia ini yang hidupnya ditakdirkan di atas laut. Laut merupakan umbo made laut atau ibunda lautan. Laut dijadikan sebagai tumpuan harapan, kehidupan, keluarga bahkan hidup dan mati. Oleh karena itu, suatu hal menjadi pantangan bagi suku Bajo untuk merusak terumbu karang yang menjadi tulang punggung harapan demi anak cucu mereka.

Dalam filosoofis masyarakat suku Bajo, dikenal dengan adanya Papu Manak Ita Lino Bake isi-isina, kitanaja manusia mamikira bhatingga kolekna mangelolana‘, artinya “Tuhan telah memberikan dunia ini dengan segala isinya, kita sebagai manusia yang memikirkan bagaimana cara memperoleh dan mempergunakannya. Sehingga laut dan hasilnya merupakan tempat meniti kehidupan dan mempertahankan diri sambil terus mewariskan budaya leluhur suku Bajo”. Dengan filosofis tersebut kiranya suku Bajo menjaga dengan baik terumbu karang sebagai salah satu hal terpenting dari laut.

Akan tetapi salah satu indikator penghambat dalam mejaga terumbu karang adalah disebabkan faktor pendidikan yang masih sangat rendah. Dapat dibayangkan, jika kehidupan hanya diabdikan pada laut, mreka tidak mempunyai kesempatan untuk belajar, sehingga suku Bajo dekat dengan kemiskinan. Dengan pendapatan yang rendah suku Bajo hanya mendapatkan 50.000 per orang dan itu pun harus dibagikan lagi kepada rekan seperjalanan. Kemiskinan sangat tercermin dari rumah-rumah suku Bajo yang hanya terbuat dari rumbia dan papan dan bambu yang terpancang di atas pesisir laut.

Sebuah studi kasus menyebutkan bahwa tingkat partisipasi sekolah di Sulawesi utara 64 persen, namun Suku Bajo cuma mencapai 0,5 persen. Akan tetapi pendidikan bukanlah merupakan hambatan bagi suku Bajo untuk merawat dan menjaga terumbu karang. Bahkan sebagai langkah solutif, pemerintah menjaring warga Bajo untuk menjaga terumbu karang dan memberi penyadaran dan kerjasamanya untuk menjaga dan melestarikan terumbu karang. Seperti yang dilakukan oleh CORE MAP (Coral Reef Rehabilitation and Management Program), sebuah program dari pemerintah untuk menangani masalah terumbu karang. Seperti Rustam salah seorang penduduk Bajo di desa Sama Bahari di Wakatobi. Dengan adanya kerjasama dengan TNC (The Nature Conservancy). Selain itu CORE MAP juga mengadakan penanaman kesadaran masyarakat sejak dini dengan menerapkan mata pelajaran muatan lokal (mulok) tentang kelautan untuk anak sekolah.

Buku pelajaran mulok bidang keluatan sudah disiapkan dan akan dibagikan ke semua Sekolah Dasar. Selain itu Coremap juga menyiapkan buku pegangan untuk guru, dan melakukan pelatihan dan workshop untuk para guru.Sehingga dengan adanya penanaman kesadaran, dengan sesama suku Bajo akan bertukar informasi dan saling mengajak pada perbaikan pola pikir. Karena suku Bajo terkenal akan eratnya rasa setia kawanan antar kelompok. Bahkan ddengan masuknya Rustam sebagai relawan dan pembicara dalam TNC, pola pikir suku Bajo sudah mulai berubah di sana. Terjadi penurunan signifikan terhadap pengrusakan karang.

Apalagi ketika suku Bajo sudah mempunyai perkumpulan sendiri, yaitu The Bajau International Communities Confederation (BICC) dengan menjalin hubungan dengan Suku-Suku Bajo yang terpencar di tiga negara lainnya, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Untuk memajukan Suku Bajo di Indonesia, ia harus mendapatkan bantuan dari Suku Bajo di negara lain yang lebih maju. Suku Bajo ini sudah diakui PBB sebagai suku mandiri. Sebuah langkah terdepan dibanding suku lain di Indonesia.

Dengan organisasi ini, lebih memudahkan pemberian pengertian kepada suku Bajo lain untuk tidak merusak terumbu karang. Apalagi organisasi ini merupakan organisasi non profit dan presiden pertamanya merupakan dari Indonesia yaitu, abdul manan, Kepala BAPPEDA Kabupaten Wakatobi.

Selain itu salah satu ciri dari suku Bajo adalah kelihaian dan pengetahuan keilmuan mereka mengenai ikan yang begitu luar biasa. Dengan hanya melihat ikan mereka dapat mendiagnosis apakah seekor ikan mempunyai penyakit atau tidak. Suku Bajo diantara suku pelaut lain seperti bugis dan makassar terkenal akan ketereampilan bernelayan. Mereka menguasai ilmu perbintangan dan berbagai ilmu pengetahuan tentang alam sehingga mereka mengatahui mana yang dapat ditangkap dan dikonsumsi.

2. Pengaruh Negatif

Meskipun suku Bajo mempunyai filosofi umbo made laut (ibunda lautan) bersemayam, akan tetapi filososfis tersebut yang justru mengahancurkan terumbu karang dan laut secara umum. Penafiran yang salah itu terjadi karena muncul pada pemahaman suku Bajo bahwa laut merupakan media yang tidak akan pernah habis-habisnya untuk dikuras. Umbo Made Laut tak akan berhenti memberi ikan. Sehingga, terumbu karang menjadi tereksploitasi, dan over fishing pun terus saja terjadi. Ikan banyak yang menjadi busuk tanpa dimanfatkan. Padahal laut juga mempunyai batasan.

Selain itu fenomena yang paling terlihat pada masyarakat suku Bajo yang dapat merusak terumbu karang adalah pemanfaatan bom dan sianida untuk mendapatkan tangkapan yang lebih. Terlihat kearifan tradisional mulai ditinggalkan. Jika sebelumnya mereka menjala ikan untuk konsumsi sendiri maka seiring perjalanan waktu bom dan bius mulai digunakan. Dengan menggunakan bom, mereka juga mendapatkan batu karang yang dijual untuk keerluan bangunan dengan kandungan kapurnya. Dieksport ke luar negeri atau dijadikan sebagai pondasi rumah. Bahkan saat ini Indonesia masih menjadi negara penyedia karang hidup terbesar di dunia. Dengan karang, perkampungan suku Bajo di desa sama bahari membuat lapangan semacam pekarangan depan rumahnya untuk keperluan berolah raga dan bermain yang diambil dari karang. Mereka mengumpulkan karang empat hingga enam tahun yang sangat berpotensi merusak terumbu karang lainnya.

Dengan bom nelayan suku Bajo menghancurkan terumbu karang yang digunakan untuk keperluan bangunan. Tindakan tersebut disengaja. Kemudian bongkahan batu karang yang sudah hancur dan terpisah-pisah dari koloni atau polipnya kemudian dijual kepada pengumpul. Merupakan salah satu penyebab kerusakan terumbu karang yang sangat fatal. Karena penghancuran tersebut tidak hanya dilakukan pada karang yang masih kecil tetapi juga karang yang sudah merumur ratusan bahkan puluhan ribu tahun yang lalu dimana memerlukan waktu yang sangat lama untuk mendapatkan karang seperti semula. Dapat dibayangkan pertumbuhan karang tidak kurang dari satu sentimeter untuk satu tahun, jadi jika suku Bajo menghancurkan karang yang mempunyai tinggi satu meter, berarti memerlukan waktu tak kurang dari 100 tahun untuk mendapatkan terumbu karang satu meter. Belum lagi jika pertumbuhan karang berhenti di tengah jalan akibat gangguan alami maupun lainnya. Akibat perbuatan tersebut, ratusan spesies ikan akan kehilangan habitat dan akan berdampak pada sosial ekonomi masyarakat bajo itu sendiri.


Tapi meskipun sulit menghadapi akibat pengetahuan akan akibat yang minim dan pendidikan yang minim pula, tetapi pemerintah dan masyarakat indonesia harus peduli dan tetap berusaha menjaga terumbu karang. Karena jika ekosistem tersebut terganggu, maka akan berakibat fatal bagi kehidupan masyarakat indonesia. Karena 62 % masyarakat indonesia menggantungkan harapan pada pemanfaatan wilayah pesisir, termasuk terumbu karang.

Jika terumbu karang mati, maka ikan pun akan pergi. Dengan kerusakan terumbu karang berarti mempercepat pemanasan global yang sedang menghantui dunia internasional. Jika terumbu karang mati maka aspek pariwisata indonesia akan mengalami kehancuran dan kerugian yang nyata.


Related Articles/Artikel Terkait



2 komentar:

Wah, termenung....tercenung....terpukau....apalagi yang dapat saya katakan.
Luar biasa.
Kemiskinan masyarakatnya.
Kekayaan lautnya.
Kesetiaannya pada bunda laut.
Penyelewengan makna terhadap arti bunda laut.
Ya Allah, berikanlah kesadaran kepada pemerintah untuk ikut menjaga kekayaannya, memberikan kepandaian kepada masyarakat Bajo, memberikan lapangan pekerjaan kepada mereka.
Penulis yang saya hormati. Terima kasih atas sharing knowledge ini.
Salam
Singgih

Salam balik juga,,,,
mudah-mudahan pemerintah peduli kepada semua suku bajo di seluruh indonesia..,dengan begitu mereka sedikit lebih maju dan berkembang...,

Post a Comment